Kembali ke Blog

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru

JAKARTA SELATAN – Berdiri megah di kawasan Kebayoran Baru, Masjid Agung Al Azhar bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan sebuah monumen sejarah perkembangan Islam di ibu kota. Dibangun pada rentang waktu 1953 hingga 1958, masjid ini pada awalnya dikenal dengan nama Masjid Agung Kebayoran.

Perubahan nama menjadi "Al Azhar" terjadi pada tahun 1960. Saat itu, Rektor Universitas Al Azhar Mesir, Syekh Mahmud Syaltut, melakukan kunjungan kehormatan dan sangat terkesan dengan aktivitas dakwah di masjid ini. Beliau kemudian menyematkan nama "Al Azhar", yang menjadikannya sebagai simbol hubungan erat antara umat Islam Indonesia dan Mesir. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan pesat masjid ini juga tidak lepas dari sentuhan tangan dingin ulama besar Indonesia, Prof. Dr. Buya Hamka, yang pernah menjadi Imam Besar di sana.

Dari segi arsitektur, Masjid Agung Al Azhar memadukan gaya Timur Tengah dengan sentuhan lokal yang disesuaikan dengan iklim tropis.

Beberapa keunikan arsitektur masjid ini meliputi:

  • Warna Putih Bersih: Mendominasi seluruh bangunan, melambangkan kesucian dan kedamaian.

  • Kubah Utama: Menjadi ciri khas yang terlihat dari kejauhan, dirancang untuk sirkulasi udara dan akustik yang optimal.

  • Taman Terbuka: Dikelilingi oleh area hijau yang luas, memberikan ruang interaksi sosial bagi para jamaah setelah beribadah.

Hingga saat ini, Masjid Agung Al Azhar tetap berdiri kokoh sebagai salah satu ikon kebanggaan masyarakat Jakarta dan cagar budaya yang terus dilestarikan.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Verifikasi akun Google untuk berkomentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Chat Berita
Logo
Kegiatan Menu