Dunia saat ini sedang berada dalam fase yang tidak menentu. Gejolak geopolitik, pergeseran kekuatan ekonomi, hingga konflik bersenjata di Timur Tengah menjadi latar belakang yang mewarnai khutbah Jumat yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin (Din Syamsuddin) pada awal Mei 2026. Dalam pesan spiritualnya, beliau menyoroti tantangan global yang dihadapi umat manusia serta menyerukan pentingnya persatuan umat Islam (Ummatan Wahidah) sebagai solusi menghadapi kehancuran tatanan dunia.
1. Dunia dalam Kondisi "Tidak Baik-Baik Saja"
Mengawali khutbahnya, Prof. Din Syamsuddin memaparkan analisis para pakar mengenai kondisi global saat ini. Beliau menyebutkan bahwa umat manusia sedang berada dalam fase the world of disorder (dunia yang tidak teratur), the world of uncertainty (dunia yang tidak pasti), hingga menghadapi big disruption (gangguan besar).
Fenomena ini disebut sebagai cumulative global damages atau kerusakan dunia yang bersifat akumulatif. Salah satu manifestasi nyatanya adalah kekerasan struktural berupa perang di kawasan Timur Tengah, yang melibatkan serangan terhadap Iran serta kegagalan upaya gencatan senjata yang berulang kali terjadi.
2. Pergeseran Episentrum Peradaban Dunia
Prof. Din juga menyoroti adanya the decline of the West atau keruntuhan Barat. Pusat gravitas ekonomi dunia kini telah bergeser dari Atlantik (Eropa Barat dan Amerika) menuju Asia Pasifik dengan bangkitnya kekuatan Asia Timur, khususnya China.
Dalam pandangannya, konflik yang terjadi di Timur Tengah tidak lepas dari upaya Amerika Serikat dan sekutunya untuk mempertahankan hegemoni, menguasai sumber energi, serta memindahkan kembali episentrum peradaban agar tidak sepenuhnya berpusat di Asia Pasifik.
3. Akar Teologis Konflik: Ambisi "Greater Israel"
Selain faktor ekonomi dan politik, Prof. Din menekankan adanya motif teologis di balik serangan yang terjadi di Palestina dan kawasan sekitarnya. Beliau menjelaskan obsesi kelompok Zionis untuk mewujudkan Eretz Israel atau Israel Raya.
Keyakinan ini mencakup wilayah yang sangat luas, mulai dari bagian Mesir, Yordania, Syria, Libanon, hingga Irak, bahkan mendekati kota suci Madinah dan Makkah. Ambisi inilah yang memicu terjadinya tragedi kemanusiaan dan genosida di Gaza serta ketegangan yang meluas hingga ke Iran.
4. Pesan Ramadan: Mengamalkan "Imsak"
Sebagai pelajaran bagi umat Islam di Indonesia dan dunia, Prof. Din mengingatkan kembali esensi ibadah Ramadan yang baru saja berlalu, yaitu Imsak atau kemampuan menahan diri. Di tengah situasi dunia yang panas, umat Islam diharapkan mampu mempraktikkan Imsak dalam kehidupan pribadi maupun kolektif agar tidak mudah terprovokasi.
Beliau memperingatkan adanya proxy war (perang perwakilan) yang sengaja diciptakan untuk mengadu domba antara bangsa Arab dan Persia, serta mempertentangkan aliran Sunni dan Syiah. Strategi divide et impera (pecah belah dan kuasai) ini sering digunakan untuk melemahkan kekuatan umat Islam dari dalam.
5. Menuju Ummatan Wahidah: Satu Kiblat, Satu Al-Qur'an
Prof. Din Syamsuddin menekankan bahwa perbedaan teologis atau mazhab hukum (fikih) adalah perkembangan sejarah pasca-wafatnya Rasulullah SAW. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan atau "fitnatul kubra" (pertentangan besar).
Beliau menyerukan konsep Ummatan Wahidah (Umat yang Satu) melalui dua pengikat utama:
-
Ummatun Qiblatun Wahidah: Selama umat Islam bersalat menghadap kiblat yang sama (Ka'bah), maka mereka adalah umat yang satu.
-
Ummatun Quranun Wahidah: Selama berpegang teguh pada wahyu Al-Qur'an yang sama, segala perbedaan ras, etnik, dan mazhab seharusnya dapat dijembatani.
6. Kesimpulan: Menghindari Perpecahan
Menutup khutbahnya, Prof. Din mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an (Surah Al-Anfal: 46) yang melarang umat Islam untuk saling bertikai. Beliau menegaskan bahwa perselisihan hanya akan membawa pada kegagalan (fatafsyalu) dan hilangnya kewibawaan umat di mata dunia (watadhaba riukum).
Di akhir sesi, beliau memimpin doa agar umat Islam diberikan kekuatan untuk menegakkan kebenaran, mencegah kebatilan, serta mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!