Masjid Agung Al-Azhar bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim di Jakarta, melainkan sebuah monumen penting yang menandai kebangkitan peradaban Islam modern di Indonesia. Selesai dibangun pada tahun 1958, masjid ini awalnya bernama Masjid Agung Kebayoran Baru. Nama "Al-Azhar" kemudian disematkan langsung oleh Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Syekh Mahmud Syaltut, pada tahun 1960 sebagai bentuk penghargaan atas peran masjid ini yang dinilai sejalan dengan visi Al-Azhar di Mesir.
Pilar Peradaban Melalui Integrasi Ilmu dan Agama
Dalam konteks peradaban, Masjid Agung Al-Azhar mendobrak stigma bahwa masjid hanyalah tempat untuk melaksanakan ibadah ritual (mahdhah) seperti shalat dan zikir. Di bawah bimbingan ulama besar Indonesia, Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), masjid ini menjelma menjadi pusat peradaban yang memadukan spiritualitas dengan kemajuan rasional.
Beberapa kontribusi besar masjid ini terhadap peradaban meliputi:
-
Literasi dan Pemikiran: Lahirnya karya-karya besar dari para ulama yang rutin mengisi kajian di sana. Karya monumental Tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka juga mengambil nama dari masjid ini, yang mencerminkan pemikiran Islam yang kontekstual dengan peradaban Nusantara.
-
Simbol Modernitas: Lokasinya yang berada di kawasan elit Kebayoran Baru pada masanya membuktikan bahwa Islam mampu beradaptasi dan mewarnai kehidupan masyarakat urban dan modern, bukan hanya masyarakat pedesaan.
-
Ruang Terbuka Intelektual: Masjid ini menjadi ruang dialektika yang mempertemukan para ulama, cendekiawan, tokoh bangsa, hingga masyarakat umum untuk membahas masalah kebangsaan dan keumatan.
Sebagai pusat peradaban, Masjid Agung Al-Azhar berhasil membuktikan bahwa kemajuan zaman dan nilai-nilai tauhid dapat berjalan beriringan untuk membangun masyarakat yang madani.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!