Ketika wukuf di Arafah sedang berlangsung, munajat doa jutaan jamaah haji menembus langit. Sehari kemudian gema takbir bergema dari menara Masjid Agung Al Azhar, mengiringi jatuhnya tetesan darah pertama hewan kurban ke bumi. Di balik hiruk-pikuk dan antrean distribusi daging, ada esensi aqidah yang harus senantiasa kita jaga kebersihannya.
Allah S.W.T. menegaskan bahwa bukan darah atau daging yang mencapai-Nya, melainkan ketakwaan (QS. Al-Hajj: 37). Pelaksanaan Salat Idul Adha dan penyembelihan kurban di Masjid Agung Al Azhar adalah monumen pembuktian tauhid kita.
"Bilah pisau yang mengiris leher hewan kurban adalah simbol dari ketegasan kita dalam memutus segala bentuk kemusyrikan dan keterikatan duniawi."
Dalam kehidupan modern, "berhala" tidak lagi berbentuk patung. Berhala masa kini bisa berupa jabatan, popularitas, obsesi pada teknologi, atau harta benda yang membuat kita melalaikan perintah Allah. Ketika jamaah Masjid Agung Al Azhar menyerahkan hewan kurbannya dengan ucapan Bismillahi Allahu Akbar, pada hakikatnya mereka sedang mendeklarasikan keesaan Allah dan mengerdilkan seluruh urusan dunia.
Syariat kurban mengajarkan kepasrahan total (taslim). Nabi Ibrahim A.S. diuji dengan perintah menyembelih putra satu-satunya, Ismail A.S. Ujian itu adalah ujian aqidah: Siapa yang lebih engkau cintai, Sang Pencipta atau ciptaan-Nya?
Mari jadikan rangkaian ibadah di Masjid Agung Al Azhar pekan ini sebagai momen pembersihan tauhid. Kita sembelih hawa nafsu dan kesombongan, lalu kita rayakan ketundukan mutlak hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!