Oleh: Dr. H. Yusup Hidayat, M.H. (Pengurus Takmir Masjid Agung Al Azhar)

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1) (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya (2), dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna (3), Dan orang-orang yang menunaikan zakat (4), dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (5) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (6) Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas (7) Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya (8). Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya (9). Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (10), (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11). " (QS. Al Mu’minun : 1 - 11)

Kebahagiaan merupakan suatu kondisi yang diharapkan oleh setiap pribadi manusia. Banyak persepsi tentang bahagia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi tentang bahagia itu sendiri. Pemahaman hakikat manusia itu sendiri sangat mempengaruhi konsep bahagia bagi manusia. Paham materialistik meletakkan bahagia itu sendiri pada kenikmatan materi yang lebih dominan. Dimana materi sangat mempengaruhi dimensi lain dari diri manusia. Di pihak lain, paham yang lebih berorientasi pada spiritualitas meletakkan dimensi jiwa manusia lebih dominan dibanding aspek yang lainnya. Materi hanyalah sebagai pelengkap saja atau perantara untuk mencapai kebahagiaan yang sejati.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan tentang karakteristik orang-orang yang berbahagia. Kalau kita merujuk kepada surat Al-Mu’minun, maka kita mendapatkan beberapa kriteria orang-orang yang berbahagia atau orang-orang yang beruntung.

Pertama, Setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan ibadah shalat. Kewajiban ini tidak bisa ditawar-tawar dalam berbagai macam kondisi kecuali dalam kondisi khusus dimana orang itu dalam kondisi tidak sadar seperti tertidur, belum baligh maupun gila.

Setiap amal dianjurkan untuk dikerjakan seoptimal mungkin, yang dalam bahasa haditsnyadisebutkan dengan itqon. Dimana amal dalam kualitas ini merupakan amal yang disukai oleh Allah SWT. “ Allah ‘Azza Wa Jalla menyukai jika seseorang dari kalian mengamalkan sesuatu sampai menuntaskannya (itqon)”(H.R. Thabrani). Hadits tersebut mengirim pesan penting bahwa setiap amal harus dikerjakan dengan efektif dan efesien serta memperhatikan optimalisasi dari pekerjaan tersebut. Disamping itu pula etika dalam memperlakukan sesuatu juga perlu diperhatikan termasuk dengan binatang sembelihan. “…Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan mata pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya” (H.R. Muslim).

Ibadah shalat merupakan ibadah yang nilainya tinggi di mata Allah SWT, dimana seorang hamba berkomunikasi dengan Sang Khalik dengan tatacara yang sudah ditentukan berdasarkan contoh yang dilakukan utusannya Nabi Muhammad SAW. Maka tidak sepantasnya kalau ibadah shalat dikerjakan dengan kualitas asal-asalan. Masing-masing pribadi setiap muslim diarahkan untuk berjuang seoptimal mungkin meningkatkan kualitas ibdah shalatnya. Shalat yang khusyu’ merupakan kualitas yang diidam-idamkan oleh setiap pribadi muslim. Khusu’ sendiri memiliki beberapa ma’na, Sebagian ulama mengartikannya dengan diam dan tenangnya hati, sementara sebagian yang lainnya mengartikan rasa takut akan tertolaknya shalat yang dilakukan. ‘khusyu’ dalam shalat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengkonsentrasikan hati pada shalat tersebut dan pada saat yang sama ia melupakan ragam aktivitas di luar shalat. Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa dalam kondisi seperti itu maka terwujud ketenangan dan kebahagiaan baginya. Rasulullah Saw, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’ira, dari Anas, beliau bersabda:

“Diberikan kepadaku kecintaan terhadap wanita dan wangi-wangian, dan shalat dijadikan untukku sebagai amalan yang paling menyenangkan.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).

Kekhusyu’an dalam ayat ini menurut Quraish Shihab bukanlah kekhusyu’an pada derajat yang rendah, karena yang melakukannya atau yang dibicarakannya adalah al-mu’minun, yaitu orang-orang yang telah mantap imannya, bukan ‘allazina amanu’/orang-orang beriman walau masih belum mantap.

Sementara itu ulama-ulama fikih memiliki perbedaan pendapat tentang khusyu’ dalam shalat. Tentu perbedaan pendapat tersebut terkait pada persoalan hukum khusyu’ dalam shalat. Apakah khusyu’ merupakan sesuatu yang wajib dalam shalat atau tidak. Mayoritas ulama tidak mewajibkan khusyu’ dalam shalat. Sedangkan bagi kalangan ulama tasawwuf mewajibkannya. Pendapat ulama fikih tersebut dipengaruhi oleh pandangan bahwa masalah khusyu’ lebih banyak berkaitan dengan masalah hati, sedang mereka hanya menghukumi sesuatu berdasarkan sisi lahiriah manusia. Nahnu nahkumu bi zahir wallahu yatawalla’ assarair. (kami hanya menetapkan hukum berdasar yang lahir dan Allah menangani yang batin).

Kedua, Orang-orang yang menjauhi sesuatu baik perbuatan ataupun perkataan merupakan orang-orang yang berbahagia. Waktu dan umur merupakan karunia Allah SWT, sehingga setiap kita dituntun untuk menggunakan karunia tersebut sebaik mungkin. Situasi sekarang dimana wabah penyakit covid19 yang terus merajalela merupakan bahan renungan bagi kita untuk kembali mengkonsolidasikan diri guna melakukan tindakan-tindakan yang memberi manfaat baik dalam dimensi duniawi, maupun ukhrawi. Sudah banyak saudara-saudara kita baik di dalam negeri maupun luar negeri yang telah mendahului kita mengahadap sang Ilahi. Dengan mentadabburi surat al-Asr, dimana pada hakikatnya hanya orang-orang yang beriman dan beramal salehlah yang terhindar dari kehidupan yang merugi. Mari kita merenungi, sudah berapa banyak kata-kata kita baik yang keluar dari mulut ataupun melalui tulisan-tulisan kita yang melukai orang lain, menghambur-hamburkan waktu, mengajak kepada sesuatu yang tidak disukai Allah SWT. Berapa banyak prilaku-prilaku kita yang tidak ada gunanya bahkan tidak hanya merugikan diri kita sendiri akan tetapi juga orang lain termasuk orang terdekat dengan kita atau kolega-kolega kita.

Wa man ahsanu qaulan mimman da’a ilallah wa ‘amila shalihan wa qoola innani minal muslimin (Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”. (fussilat: 33) Jelas pesan ayat ini agar kita mengeluarkan kata-kata yang menjadikan diri kita dan orang lain untuk selalu dekat kepada Allah SWT, dan juga mengerjakan kebajikan-kebajikan, yang berguna untuk diri dan orang lain. Laghw atau sesuatu yang tidak berguna merupakan sesuatu yang perlu dihindari, namun demikian bukan berarti kita tidak dibolehkan untuk bercandan atau bersenda gurau sama sekali.

Aisyah ra, isteri Nabi saw, berkata bahwa suatu Ketika aku memasak makanan dan memberikannya kepada Rasul saw, yang sedang bersama isteri beliau yang lain Saudah. Aisyah berharap bahwa Saudah ikut menikmati makanannya, namun karena tidak sesuai dengan selera, Saudah enggan memakannya. Aisyah bersikeras sambil berkata, “Demi Allah engkau harus makan, kalau tidak, akan kukotori wajahmu dengan makanan ini. “Karena Saudah bersikeras untuk tidak makan, kemudian Aisyah mengambil Sebagian makanan itu dan menempelkannya ke wajah Saudah. Saudah pun melakukan hal yang sama ke wajah Aisyah sambil tertawa. Rasulullah Saw. yang melihat pun ikut tertawa.

Ketiga, Zakat merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap mu’min. Namun demikian ada ketentuan jelas terkait dengan kewajiban mengeluarkan zakat. Dalam zakat fitrah setiap mu’min diwajibkan untuk mengeluarkan zakat yang di Indonesia dengan menggunakan beras sebanyak 3,5 liter, kecuali bagi orang-orang yang memang tidak memiliki makanan yang bisa dimakan untuk hari itu. Sementara itu untuk zakat mal ditentukan bagi mereka yang dalam setahun tersisa harta yang mencapai nisab atau Batasan minimal harta yang wajib dizakati, atau melewati nisab bagi harta yang lain dalam pertanian, pertambangan atau peternakan.

Zakat sendiri memiliki dimensi yang tidak hanya bersifat ubudiyah dimana zakat merupakan ibadah yang akan mensucikan pelakunya maupun hartanya, akan tetapi juga zakat memiliki dimensi social dan ekonomi. Dengan zakat diharapkan terjadi hubungan yang harmonis antara mereka yang dikaruniai kelebihan harta dan mereka yang diuji dengan kekurangan harta. Kalangan yang kekurangan harta memiliki rasa hormat terhadap mereka yang berlebih dan mereka yang berlebih memiliki empati dan rasa kasih sayang terhadap yang berkekurangan. Begitu banyak persoalan sosial baik itu pengangguran, kriminalitas, bunuh diri dan yang lainnya karena disebabkan adanya kesenjangan sosial. Dari presfektif ekonomi zakat memiliki peran penting dalam mensejahterkan masyarakat. Potensi zakat di Indonesia sangatlah besar sekali, hanya potensi tersebut belum dapat dioptimalkan pengumpulannya sehingga tidak optimal pula dalam pemberdayaannya untuk keperluan kelompok yang berhak menerimanya.

Kesadaran yang rendah akan pengeluaran zakat tidak terlepas dari pengetahuan tentang zakat itu sendiri. Dalam zakat fitrah, kesadaran masyarakat cukup tinggi mengingat sosialisasi dan tradisi yang sudah mengakar di masyarakat kita jika di akhir Ramadhan ada kewajiban pengeluaran zakat fitrah yang harus ditunaikan. Tidak demikian dengan zakat harta. Sosialisasi yang terus dilakukan oleh Lembaga zakat baik yang didirikan oleh pemerintah dalam hal ini Baznas maupun oleh masyarakat dalam hal ini LAZ dan oleh para da’i belum menggerakkan para pihak yang sudah seharusnya mengeluarkan zakat untuk membayar zakat. Iman dan ilmu menjadi kunci penting dalam keberhasilan pengelolaan zakat. Iman mendorong para wajib zakat untuk dengan penuh kemantapan diri mengeluarkan zakat yang memang harta yang bukan haknya. Keyakinan bahwa zakat akan mendatangkan keberkahan dan kemaslahatan yang tidak hanya bagi orang lain tetapi juga untuk dirinya sendiri, merupakan barang mahal yang harus terus diperjuangkan. Maka sangat berbahagia bagi orang yang dengan gampang mengeluarkan zakat. Kebahagiaan bisa melaksanakan perintah Allah SWT dan kebahagiaan dalam ikut berbagi membahagiakan orang lain. Hidayah Allahlah yang menggerakkan hati seseorang untuk dengan sukarela mengeluarkan harta ratusan juta atau bahkan miliaran dalam kerangka melaksanakan perintah Allah SWT. Bagi orang yang belum mendapatkan taufik dan hidayah Allah SWT, mengeluarkan satu juta pun diantara miliaran uang yang dimiliki sungguh terasa berat.

Keempat, manusia sebagai makhluk biologis memiliki kecenderungan untuk menyalurkan hasrat biologisnya. Itu adalah naluri manusia yang tidak bisa dibantah, sehingga dalam Islam penyaluran hasrat biologis tersebut dibenarkan termasuk para nabi sekalipun. Hanya saja Islam dengan mempertimbangkan kemaslahatan mengatur sedemikian rupa bagaimana hasrat biologis tersebut disalurkan. Al-Qur’an memuji orang-orang Mu’min yang menjaga dan memelihara kemaluan mereka kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka dan juga budak mereka yang mereka miliki. Pada prinsipnya Islam tidak menghendaki adanya perbudakan, hanya saja konteks sosiologis pada saat itu menghendaki adanya pengaturan tentang budak. Karena budak merupakan realita sosiologis yang tidak bisa dipungkiri. Proses penghilangan perbudakan dilakukan secara bertahap sampai budak sama sekali tidak ada. Pertanyaannya kemudian adalah, apakah Al-Qur’an sudah tidak relevan lagi kalau perbudakan tidak ada. Zaman terus berubah dan kita tidak tahu apakah masa depan akan Kembali kondisinya kepada masa lalu termasuk budaya dan kondisi masyarakatnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an tentu menjadi acuan dalam merespon setiap perkembangan zaman apapun itu bentuknya. Orang yang menyalurkan hasrat bilogisnya di luar dari ketentuan di atas adalah termasuk orang-orang yang melampaui batas yang tentu tidak disukai oleh Allah SWT. Berbahagialah orang yang bisa menahan diri untuk patuh dalam menyalurkan hasrat biologisnya sesuai ketentuan Allah SWT.

Kelima, Orang Mu’min yang berbahagia merupakan orang yang selalu menjaga amanah dan janji-janjinya. Dalam konteks sekarang tidak mudah untuk mendapatkan orang-orang yang memiliki karakter amanah sampai-samapi lembaga keuangan syariah mengharuskan adanya jaminan pada transaksi-transaksi yang bersifat kerjasama. Hal itu didorong oleh konteks sosiologis dimana kejujuran dan amanah masih belum kuat tertanam di masyarakat Indonesia. Begitu juga persoalan-persoalan janji. Begitu mudah para calon pemimpin mengumbar janji pada masa-masa kampanye, namun kedodoran atau pura-pura lupa untuk menunaikannya ketika kekuasaan sudah di tangan. Padahal amanah merupakan refleksi keimanan seseorang. Begitu juga menepati janji bagian penting dari kualitas keimanan seseorang. Hadits Nabi Muhammad mengingatkan akan terpersonifikasinya seseorang sebagai orang munafik Ketika dia tidak memiliki sifat amanah dan menepapati janji. “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Jika berkata dia berdusta, jika berjanji, dia mengingkari, dan jika dipercaya, dia mengkhianati”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Keenam, orang mu’min yang berbahagia adalah orang yang selalu memelihara shalat-shalatnya. Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan shalat pada waktunya. Mereka bukan orang yang dikategorikan dalam surat al Ma’un sebagai orang-orang yang lalai dalam shalatnya. Shalawatihim merupakan bentuk jama, yang menurut Quraish Shihab bermakna mereka benar-benar memperhatikan dan memelihara semua shalat, bukan hanya shalat-shalat tertentu, bahkan bisa juga mereka memperhatikan shalat-shalat sunnah, yang paling tidak yang muakkadah, yaitu shalat sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. Orang-orang mu’min yang memiliki enam ciri di atas sebagai Mu’min pemenang dan berbahagia serta mereka adalah orang yang diberikan kemuliaan oleh Allah SWT untuk mewarisi surga Firdaus, surga yang memiliki derajat yang tinggi. Mudah-mudahan kita semua dapat meraih sebagai orang yang layak untuk mewarisi surga Firdaus yang terntunya harus berupaya seoptimal mungkin untuk memenuhi kriteria-kriteria yang disebutkan di atas.

Wallahu’alam bisshawab.

PP. Bina Madani, Bogor, 23 Januari 2021