I. Muqaddimah.

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam: “ Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisaban (mengharap balasan dari Allah) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. H.R. Bukhari Muslim)

Beberapa hari lagi insya Allah kita akan memasuki bulan suci Ramadhan 1437 H, yang tahun ini jatuh pada tanggal 6 Juni yang akan datang. Insya Allah.

Nabi Muhammad pernah menyatakan bahwa bulan Rajab bulannya Allah, karena di bulan Rajab, tepatnya tanggal 27 Rajab tahun ke XII Kenabian, Allah telah meng-Isra-kan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina. Dan pada malam itu juga me-Mi’raj-kan beliau dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Kemudian selanjutnya beliau menyatakan bahwa bulan Sya’ban bulanku. Karena di bulan Sya’ban ini, tepatnya pertengahan (Nishfu) Sya’ban, do’aku kata Nabi Muhammad dikabulkan oleh Allah, yaitu pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke kiblat yang semula yaitu Masjidil Haram.

Dan selanjutnya Nabi Muhammad mengatakan bulan Ramadhan bulan umatku. Karena di bulan Ramadhan ini umat Islam diberi kesempatan membakar dosa-dosa yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya dengan jalan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ini. Ramadhan artinya pembakaran dan bulan Ramadhan berarti bulan pembakaran. Yang dibakar ialah dosa-dosa yang telah kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya dengan melaksanakan puasa sebulan penuh. Dengan berpuasa Ramadhan karena Allah semata, dosa-dosa antara kita dengan Allah akan dibakar, sehingga tanggal satu Syawal kita kembali bersih atau الفطر عيد, tinggal menyelesaikan dosa antara kita dengan kita, karena dosa antara sesama tidak diampuni Allah sebelum saling memaafkan.

II. Tujuan Puasa Ramadhan.

Tidak sedikit orang yang salah tanggapan tentang tujuan puasa Ramadhan yang sebenarnya. Pada umumnya orang beranggapan bahwa tujuan puasa adalah agar kita bertaqwa. Padahal kalau kita membaca QS Al Baqarah (2) ayat 183 s.d 188 dengan seksama, maka tujuan puasa Ramadhan adalah hidup bersih atau kembali bersih. Dan untuk hidup bersih diperlukan tiga (3) unsur, dan ketiga unsur tersebut sekaligus ditumbuhkan lewat puasa Ramadhan sebulan penuh. Ketiga unsur tersebut adalah sebagai berikut:

1. Unsur pertama: Rasa Taqwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah: 183)

Arti taqwa adalah takut dan yang dimaksud dengan taqwa disini adalah rasa diri diawasi atau dimonitor Allah. Dan kalau rasa taqwa ini ada, insya Allah hidup kita bersih dimanapun berada dan apapun tugas yang diemban. Kenapa orang beriman diwajibkan berpuasa?

Karena hanya mengandalkan kepada iman semata-mata, manusia tidak mungkin hidup bersih.

Contoh seperti kisah Khalifah Umar bin Khatab dengan seorang anak gembala di bawah ini:

Khalifah Umar      : Jualah kambing ini seekor saja kepadaku, aku sangat membutuhkan kambing ini.

Anak Gembala      : Tidak mau, kambing ini bukan milikku, aku hanya kuli mengurus kambing ini.

Khalifah Umar      : Tuanmu tinggal dimana? Apakah tuanmu sering datang kemari?

Anak Gembala      : Sudah lama tuan saya tidak menengok kambing-kambing ini tuan, beliau tianggal di kota Madinah sana.

Khalifah Umar      : Kalau begitu kebetulan sekali, aku perlu kambing, kamu perlu uangkan? Berapa kamu minta akan aku bayar, kalau perlu dua kali lipat dan kalau kamu takut ketahuan orang, potong saja disini, dagingnya aku bungkus sehingga orang tidak ada yang tahu.

Sekian kali Umar membujuk, sekian kali pula gembala tersebut menolaknya.

Khalifah Umar      : Nak kalau tidak mau, kamu bodoh sekali, disini jauh dari kampung, tidak akan ada orang yang tahu, apalagi tuanmu. Anak gembala tersebut terkejut dengan lantang mengatakan satu kalimat pendekفأين الله ياسيد yang artinya: Kalau begitu dimana Allah itu tuan.

Umar bin Khatab memeluk anak tersebut dengan mengatakan engkau adalah anak yang bersih. الحَمْد لله

Sementara anak gembala tersebut sama sekali tidak mengetahui, bahwa yang ia ajak bicara adalah Khalifah Umar bin Khatab. Di akhir hikayat, kelak anak gembala tersebut menjadi salah seorang bendaharawan negara karena bersih dan jujurnya anak tersebut. Subhanallah

2. Unsur kedua: Rasa Syukur.

..... hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS. Al Baqarah: 185)

Syukur menurut arti bahasa adalah terima kasih. Dan yang dimaksud dengan syukur yaitu menerima, merawat dan memanfaatkan karunia Allah SWT.

Contoh: Kesehatan phisik atau anggota tubuh.

Bagaimana cara mensyukurinya?

Kita terima dengan ucapan alhamdulillah kemudian kesehatan tersebut kita rawat dengan mengatur pola makan, olah raga sesuai dengan umur kita dan pola istirahat yang benar. Setelah itu kesehatan tubuh kita, kita manfaatkan untuk hal – hal yang positif yang berguna bagi rumah tangga, lingkungan masyarakat dan lain sebagainya.

Dalam bulan Ramadhan melalui puasa kita diatur oleh ajaran agama sedemikian rupa, dari cara berdo’a sebelum berbuka sampai dengan cara menyantap makanan dan jumlah makanan yang diperlukan untuk kesehatan tubuh kita.

“Manusia yang berpuasa itu senantiasa dalam kondisi kebaikan (sehat) selama mereka menyegerakan berbuka pada waktunya”.

Anas r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaklah kamu bersahur karena di dalam bersahuritu ada keberkatannya.

Kemudian pada gerakan-gerakan shalat tarawih dan bacaannya setiap malam untuk kestabilan physik dan rohani kita. Kemudian diperintahkan bersadaqah dan memberi berbuka puasa, terutama kepada orang-orang yang tidak mampu dan diakhiri di bulan Ramadhan dengan mengeluarkan santunan untuk orang-orang yang tidak mampu berupa zakat fitrah. Subhanallah

Dan untuk menjaga agar rasa syukur itu tetap tumbuh dalam diri kita, Rasulullah memberikan resep sebagai berikut:

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu”

Setiap Ramadhan orang yang berpuasa dalam masalah kehidupan selalu melihat ke bawah.

3. Unsur ketiga: Membiasakan diri hidup sesuai dengan petunjuk Allah atau aturan agama.

... Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah: 186)

Mari kita perhatikan dengan seksama, kapan hidup kita seteratur hidup di bulan Ramadhan dalam semua sikap. Mau berbuat sesuatu kebaikan pasti dibiasakan berdo’a dan demikian pula sesudahnya. Dalam berkata pasti lebih sopan dan santun dibandingkan di luar bulan puasa. Kedermawanan pasti melebihi kedermawanan di luar bulan puasa begitu seterusnya. Hidup bersih ditanamkan dan dibiasakan sebulan Ramadhan, dengan harapan kebiasaan-kebiasaan tersebut terbawa pada sebelas bulan berikutnya.

Contoh hidup bersih salah satunya adalah kisah Rabiah Al Adawiyah.

Pada suatu hari Rabi’ah Al Adawiyah kedatangan seorang pengemis dan iapun memberikan satu potong roti itu kepadanya. Lalu ia kembali kedatangan dua orang lagi yang mengatakan bahwa ia sudah tidak makan beberapa hari, lalu Rabiahpun memberikan dua potong roti yang masih dimilikinya kepada dua orang tersebut. Padahal roti-roti tersebut rencananya akan dimakan Rabi’ah untuk berbuka puasa.

Tiba-tiba pada hari itu juga Rabiah kedatangan seorang pelayan dari tetangga. Pelayan tersebut berkata: “Majikanku telah menyuruhku menghantarkan roti-roti ini kepada nyonya,” pelayan itu menjelaskan. Rabi’ah menghitung roti tersebut. Semua berjumlah sepuluh potong. “Mungkin roti-roti ini bukan untukku,” kata Rabi’ah. Pelayan itupun kembali kepada majikannya dan menjelaskan apa yang terjadi. Majikan tersebut meminta kepada pelayan tersebut menambah roti sebanyak sepuluh lagi, sehingga sekarang roti tersebut berjumlah dua puluh potong roti. Lalu pelayan tersebut kembali mengantar roti tersebut Rabiah. Namun sekali lagi Rabiah menolaknya kembali. Pelayan itu berusaha meyakinkan Rabi’ah namun sia-sia saja. Akhirnya roti-roti itu dibawanya kembali.

Pelayan tersebut kembali menjelaskan kepada majikannya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu iapun dapat penambahan sepuluh potong roti lagi dari majikannya, kemudian ia kembali ke tempat Rabi’ah. Roti-roti itupun dihitung kembali oleh Rabi’ah, ternyata semuanya ada tiga puluh potong dan setelah itu barulah ia mahu menerimanya. “Roti-roti ini memang telah dikirim oleh majikanmu untukku,” kata Rabi’ah. Pelayan tersebut heran dan berkata kepada Rabiah: “Rakus sekali nyonya, nyonya diberikan sepuluh potong roti tapi menolak, kami tambahi dua puluh potong roti tetap nyonya menolaknya, tetapi kemudian ketika semuanya berjumlah tiga puluh potong barulah nyonya mau menerimanya”. Kemudian Rabi’ah mengambil tiga potong roti tersebut dan sisanya diberikan kepada tetangganya. Lalu Rabiah berkata kepada pelayan tersebut: “Aku bukannya rakus, tetapi Allah berfirman dalam Surat Al An’am ayat 160”

Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

III. Amaliyah di Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadar

Banyak sekali amaliyah yang diperintahkan banyak sekali dari mulai memberi berbuka puasa, shalat tarawih dan zakat fitrah sampai memperbanyak i’tikaf di masjid untuk mentadabburi Al Qur’an atau belajar membaca dan memahami Al Qur’an. Karena Al Qur’an merupakan pedoman hidup manusia dan pedoman atau petunjuk mustahil bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita memahami maksud yang terkandung dalam Al Qur’an tersebut. Dan di bulan Syawal pemahaman kita tingkatkan menjadi pengamalan. Inilah manusia yang mendapatkan nilai lailatul qadar.

IV. Khatimah.

Demikian tulisan singkat ini saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua untuk lebih meningkatkan keimanan/keshalehan kita dalam hidup ini. Amin ya rabbal alamin.

Bibliografi

1. Al Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an, Jakarta, 1970

2. Al Qur’an dan Tafsirnya, Universitas Islam Indonesia, PT. Dana Bhakti Wakaf, Jilid I,II, Yogyakarta

3. Al Imam Muhammad bin Ismail Al Kahlany, Subulus Salam, Darul Fikri, Cairo

4. Ahmad Musthafa, Tafsir Al Maraghi, Cairo, 1953

5. Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996

6. Izzudin Balyiq, Manhaj As Shalihin Min Ahaditsi wa Sunnati Khatimil Anbiyai Walmursalin, Dar Al Fath, Cairo, 1978

7. Muhammad Ali As Shobuni, Shofwatut Tafasir, Dar Al Quran Al Karim, Beirut, 1976

8. Sulaiman bin Abdullah bin Hamd Abul Khoil, Dr, Mashadir Al-Din Al-Islam, Dar Al-Ashimah, Almamlakah Al-Arabiyyah As-Saudiyah, 2010

9. Syekh Muhammad Yusuf Elqordlawi, Halal wal Haram fi Al-Islam, Dar Ql Quran, Beirut, 1980