I. MUKADIMAH

Diakhir tahun 2015 ini, ada dua peristiwa penting yang waktunya sangat berdekatan antara satu dengan yang lain. Yang pertama Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 24 Desember dan yang kedua Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember.

Sampai saat sekarang ini pro dan kontra tentang boleh tidaknya seorang Muslim mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW masih terdengar disana sini, bahkan di ibu kota sendiri beberapa tahun terakhir ini tidak terdengar lagi. Begitu juga tentang boleh tidaknya seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada saudara kita yang beragama Nashrani.

Oleh karena itulah pada buletin Jumat ini, penulis mencoba untuk menulis hal tersebut menurut Al-Quran dan Hadist Rasulullah, semoga memberi manfaat untuk kita semua, Amin

II. MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW BID’AH ?

1) Pengertian Maulid

Ada tiga macam kalimat yang biasa dipakai oleh umat Islam di tanah air kita tentang peringatan ini :

  1. Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW
  2. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
  3. Peringatan Milad Nabi Muhammad SAW

Pertanyaan: Kalimat mana yang sebenarnya paling tepat ?

Dalam bahasa Arab justru perbedaan bunyi pada akhir kata yang membedakan arti dari kata yang satu dengan yang lain. Seperti juga terdapat dalam bahasa Indonesia, contohnya:

  1. Arti kata Babu
  2. Arti kata Babi
  3. Arti kata Baba

Perkataan ketiganya hampir sama, hanya akhir kata berbeda.

  1. Arti kata Babu yaitu orang yang kerjanya memasak di dapur
  2. Arti kata Babi yaitu masakan yang dimasak si babu
  3. Arti kata Baba yaitu yang memakan masakan babu tadi

Sekarang mari kita lihat apa perbedaan antara kata Maulud, Maulid dan Milad.

  1. Maulud artinya bayi atau orok
  2. Maulid artinya yang lahir dan yang dibawa oleh yang lahir
  3. Milad artinya hari lahir

2) Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Adalah Budaya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukanlah agama, akan tetapi hanyalah merupakan budaya umat islam semata. Kata-kata budaya dalam Al-quran ada dua macam, yaitu:

  1. Budaya yang menjurus kepada pengamalan agama yang disebut dengan MA’RUF
  2. Budaya yang menjurus kepada pelanggaran agama yang disebut dengan MUNKAR

Contoh MA’RUF:

Ada kebiasaan di daerah banten, sehari sebelum hari raya Idul Fitri masyarakat beramai-ramai membersihkan kuburan walaupun kuburan itu bukan keluarganya sendiri. Tujuannya baik sekali, agar yang berziarah ke kuburan tersebut pada hari raya nanti tidak digigit binatang berbahaya seperti ular, kalajengking, kelabang atau binatang berbisa lainnya. Contoh seperti inilah yang disebut dengan MA’RUF karena kebiasaan atau budaya tersebut menjurus kepada pengamalan agama bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman.

Begitu juga setelah selesai shalat Idul Fitri. Anak datang kepada orang tuanya, menantu kepada mertuanya, tetangga yang satu kepada tetangga yang lain untuk saling meminta maaf. Kedua contoh tersebut diatas tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah atau diperintahkan oleh Beliau. Akan tetapi kalau kita lakukan menjurus kepada pengamalan agama. Inilah yang disebut dengan MA’RUF

Artinya : dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Surat Ali-Imran 3: 104)

Contoh MUNKAR :

Minuman keras dan judi adalah budaya semua bangsa di dunia termasuk penduduk Mekkah dan Madinah. Minuman keras tersebut kalau kita minum akan menimbulkan sifat negatif, karena mabuk menjurus kepada pelanggaran agama seperti pelecehan seksual, pembunuhan dan lain sebagainya. Begitu juga kepada perjudian, karena begitu asiknya judi ia lupa akan kewajibannya kepada Allah SWT seperti shalat. Karena kalah judi ia akan merasa tidak bersalah untuk mengambil yang bukan hak nya dan sebagainya.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Surat Al-maidah 5: 90)

Oleh karena itulah Allah SWT menyuruh kepada manusia untuk mengerjakan yang MA’RUF dan mencegah yang MUNKAR

Artinya : kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Surat Ali-Imran 3: 110)

Artinya : mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (Surat Al-baqarah 2: 219)

Demikianlah beberapa surat di dalam Al-quran tentang MA’RUF dan banyak lagi surat serupa sampai disebutkan tidak kurang dari 38 kali. Oleh karena itu kita harus berhati-hati untuk mengatakan peringatan Maulid itu termasuk Bid’ah, Khurafat dan lain sebagainya.

3) Bagaimana Kalau Peringatan Maulid Tersebut Menjurus Kepada Pengultusan Terhadap Diri Nabi Muhammad Saw ?

Menurut hemat saya, peringatan tersebut jelas-jelas termasuk pelanggaran agama karena Rasulullah sendiri mengatakan

Artinya : Jangan kalian mengkultuskan aku sebagaimana dulu umat Nashrani mengkultuskan Isa putra Maryam, sesungguhnya aku adalah seorang hamba Allah, maka katakanlah Aku hamba Allah dan Rasulnya.

Walaupun demikian kalau ada peringatan Maulid yang menjurus kepada pelanggaran agama, bukan peringatan maulidnya yang dihilangkan akan tetapi cara memperingatinya yang kita luruskan sehingga tidak menjurus kepada sesuatu yang menyesatkan.

Artinya : serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Surat An-Nahl 16: 125)

Contoh dalam kehidupan sehari-hari :

Ada traffic light untuk mengatur arus di jalan raya. Kalau pengguna jalan melanggar aturan tersebut, jangan traffic light nya dicabut karena arus akan semrawut. Akan tetapi si pelanggarnya yang ditilang.

4) Istilah Yang Paling Tepat Yaitu Peringatan Maulid

Kenapa peringatan maulid bukan peringatan maulud atau milad ? Karena kalau yang kita peringati sosok Nabi atau hari lahirnya pasti akan terjadi pengkultusan atau pendewaan terhadap diri Nabi Muhammad SAW dan hal tersebut jelas-jelas dilarang oleh Rasulullah seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Daelami. Oleh karena itu kalau kita memperingati Maulid yang kita peringati bukan sosok Nabi Muhammad SAW akan tetapi apa yang ia bawa, yaitu ajaran Islam. Dengan demikian setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya yang dibicarakan adalah bagaimana memahami ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan yang dicontohkan oleh Beliau. Dengan demikian peringatan Maulid tersebut menjurus kepada perbuatan yang MA’RUF yang dibolehkan oleh agama.

5) Renungan Tentang Peringatan Maulid

Saya berpikir kalau peringatan Maulid dihilangkan kita akan merugi luar biasa, terutama dalam membentuk moralitas atau akhlak generasi masa depan. Coba kita renungkan. Pelajaran-pelajaran agama disekolah baik dasar atau menengah diberikan seminggu sekali dalam waktu 40 menit. Meliputi pelajaran akhlak, keimanan, ibadah dan membaca Al-quran. Dengan semikian anak-anak mendapatkan pelajaran akhlak dalam setahun hanya 12 x 40 menit. Itupun kalau tidak dipotong oleh libur sekolah hari-hari besar seperti Natal, Idul Fitri dan lain sebagainya.

Kemudian apa yang diperoleh anak-anak tentang contoh akhlak Rasulullah dalam waktu yang sependek tersebut ? Dan tentu harus mendapat tambahan, dan disinilah pentingnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan. Contoh peringatan Maulid Nabi pada masa Buya Hamka.

Panitia merencanakan program yang sasarannya meliputi sekolah menengah atas pada waktu itu baik sekolah-sekolah negeri, madrasah aliyah, pesantren, sekolah Tarakanita, PSKD, Pangudi Luhur dan sekolah-sekolah yang sederajat. Bentuk peringatan Maulid tersebut bermacam-macam mulai dari ceramah-ceramah agama, perlombaan gerak jalan, drum band, seni bela diri, melukis, pidato dan lain sebagainya untuk merangkul generasi muda sehingga dalam benak mereka timbul rasa memiliki terhadap Masjid Agung Al-azhar khususnya dan Islam pada umumnya terutama kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

III. UCAPAN SELAMAT NATAL

Perkataan Natal berasal dari bahasa Portugis yang diadopsi oleh bangsa Yunani yang artinya adalah hari lahir. Kemudian dalam istilah yang dimaksud dengan Natal adalah hari lahirnya Isa Almasih (Arab), Yesus Kristus (Latin) dan Yoshua Krestos (Ibrani). Terlepas dari tepat atau tidaknya tanggal dan tahun kelahiran Nabi Isa AS seperti yang disebutkan dalam kitab Injil maupun Al-quran, yang jelas Nabi Isa AS memiliki tanggal, bulan dan tahun kelahiran. Dalam Injil Matius 2:1 disebutkan sebagai berikut: ”Sesudah Yesus dilahirkan di Bethlahem ditanah Yudea pada jaman Herodes. Datanglah orang-orang Majusi dari timur Yerussalem” Dan dalam Al-quran

Artinya : Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu ( Surat Maryam 19:24-25)

Perayaan Natal mencakup dua hal, ada yang bersifat RITUAL yang meliputi

  1. Menyalakan lilin, tanda kebaktian/misa dimulai
  2. Pentasbihan oleh pendeta atau pasteur
  3. Nyanyian rohani, yaitu pembacaan Kitab Mazmur (Zabur)
  4. Doa munajat oleh pendeta/pasteur
  5. Mematikan lilin, pertanda upacara Natal selesai

Yang bersifat CEREMONIAL : Selain yang tersebut diatas, semuanya termasuk ceremonial, seperti santap kue Natal, buah-buahan, makanan-makanan yang dihidangkan termasuk ucapan selamat Natal.

Bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim tentang fatwa MUI : “Haram hukumnya merayakan Natal”

Pertanyaan: Apakah yang diharamkan yang bersifat RITUAL atau CEREMONIAL atau kedua-duanya ?

Mari kita perhatikan apa kata Al-quran dan Hadist menghadapi orang-orang yang non Muslim

Artinya : Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Surat Al-Baqarah 2:285)

Perhatikan hadits Rasulullah yang bersumber dari Amrin bin Suaib bahwa ada 12 kewajiban seorang muslim terhadap tetangga baik muslim maupun non muslim.

  1. Jika tetangga meminta pertolongan tenaga, tolong dia
  2. Jika tetangga meminta pertolongan materi, tolong dia
  3. Jika tetanggamu itu meminjam sesuatu darimu, pinjami dia
  4. Jika dia miskin dan perlu bantuan, santuni dia
  5. Jika tetangga itu sakit, besuklah dia
  6. Jika tetangga mendapat KEBAHAGIAAN, ucapkan selamat
  7. Jika tetangga itu meninggal dunia, iringi jenazahnya
  8. Jika tetangga mendapat musibah ( bencana), hiburlah dia
  9. Jangan menyakiti tetangga
  10. Janganlah kamu mendirikan bangunan lebih tinggi dari pada bangunan tetangga sehingga sirkulasi udara ke rumahnya tersumbat, kecuali dengan minta ijinnya terlebih dahulu.
  11. Jika kamu membeli buah-buahan, hadiahkan kepada tetangga itu ala kadarnya
  12. Jangan kamu menyakiti tetangga dengan bau masakan yang kamu olah kecuali kamu bisa memberinya barang sedikit

IV. PENUTUP

Demikian tulisan singkat ini saya sampaikan sebagai bahan renungan untuk memperoleh kesempurnaan yang lebih baik sebagai hamba Allah. Semoga bermanfaat. Amin Ya Rabbalalamin.

BIBLIOGRAFI

  1. Al Qur’an dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al Qur’an, Jakarta, 1970
  2. Al Qur’an dan Tafsirnya, Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta, 1991
  3. Perjanjian Baru, Lembaga Al Kitab Indonesia, Jakarta, 1971
  4. Jalaludin Abdul Rahman bin Abi Bakr As-Suyuthi, Al-Jami As-Shagir, Darul Fikri, Beirut
  5. Shalaby Ahmad, Muqaranatul Adyan, Bumi Aksara, Jakarta, 1991